Tuesday, June 30, 2015

Jawapan Isteri Yang Menyebabkan Suaminya Menangis

Assalamualaikum, kisah ini menceritakan suami yang bekerja secara kontrak dan sudah 3 bulan ditunda gajinya. Isterinya pada suatu hari mengajak beliau ke ekspo perabot dan hiasan dalaman rumah. Semuanya akan diceritakan menerusi perbualan di bawah:

"Abang, kita pergi kedai hiasan dalaman rumah, boleh?"



Isteri memandangku penuh pengharapan. Aku senyum kelat. Mengangguk tidak. Menggeleng tidak.

Tapi, belum sempat aku berikan jawapan dia dah pergi.
Dia tak tahu, dah 3 bulan gajiku tak berbayar. Entah apa masalahnya dengan syarikat tempat kerjaku. Masalah kemelesetan ekonomi agaknya. Aku bukannya kerja tetap pun situ. Ambil upah kontrak saja. Kerja aku, pikul simen, bawa paip besar-besar tu ke rumah-rumah. Kadang-kadang, aku jadi buruh binaan sandaran. Semua kerja berat, aku buat.

Bukan demi perut aku. Tapi, demi keluarga kecil aku ini. Anak baru dua orang. Dekat 10 tahun dah aku nikah. Isteri tak kerja. Suri rumah sepenuh masa.

Rumah ni pun rumah pusaka arwah nenek isteri. Duduk menumpang di tanah famili. Aku harta apa pun tiada. Harapkan kereta Proton Saga first model tu saja. Tu pun dah nak roboh kalau bawa lebih 100 km/j.

"Jom."

Anak-anak pun dah siap. Isteriku senyum manja.

Kami ke kedai pameran perabot dan hiasan dalaman yang besar dekat area sini. Ada ekspo rupanya.

Aku tengok isteriku dan anak-anak happy sangat. Pergi dari satu pameran ke satu pameran. Dari satu galeri ke satu galeri. Display ke display. Dari pameran ruang tamu ke ruangan dapur.

Aku tengok dan tanya harga.

"Ribu. Belas ribu. Puluh ribu."

Isteriku pimpin tanganku dan anak-anak. Sepanjang pameran, dia senyum saja. Hairannya, tak pula dia suruh aku beli.

Sampai di ruangan galeri dapur, dia berhenti lama. Aku tahu, dia mengimpikan dapur luas seperti itu. Ada kabinet, lengkap dengan ketuhar, dapur masak dan hood. Barangan dapur serba lengkap. Wanita mana yang tidak suka?

Dia memegang erat sedikit genggaman tanganku. Aku tahu, dia mahu.

"Abang, jom. Kita balik. Dah puas tengok."

Aku terkebil-kebil. Menuruti saja langkahnya ke kereta uzurku.

Dalam kereta, isteriku tak lepaskan tanganku. Aku sengaja bertanya,

"Awak nak dapur macam tadi, ya?"

Dia jawab,

"Nak sangat. Tapi..."

Aku mencelah.

"Tapi?"

Dia meletakkan kepalanya di bahuku.

"Tapi, biarlah. Syukur dengan dapur rumah kita. Syukur dapat makan dan minum apa adanya. Bukan dapur yang saya ingini, tapi abang dan anak-anak ada di sisi. Masa makan, ceria dan gelak sekali. Gurau senda dengan famili. Meja kecil, senang nak capai dan hulur lauk. Senang nak suap suami dan anak-anak makan. Dapur yang bahagia."

Aku terdiam. Senyum paksa.

"Abang tahu impian awak.."

Isteriku cepat-cepat genggam erat lagi. Kali ini lenganku jadi mangsa.

"Abang jangan fikir macam-macam. Saya ajak abang datang sini, supaya keinginan mata saya untuk lihat semua tadi, pudar setelah dah lihat. Tak terbayang-bayang dah. Tengok dan lupakan.

Mencintai tidak bermakna perlu memiliki. Suka, tak bermakna nak beli.

Semua barangan mewah tadi, dari ruang tamu sampai ke dapur, dari pagar rumah sampailah rumah mewah, saya impikan abang dan anak-anak ada bersama dalam rumah tu dengan kelengkapan tu semua.

Indah sangat ada segalanya. Bahagia sangat.

Tapi saya bayangkan bukan indah di dunia, bang. Saya bayangkan mahligai di Syurga ada lebih dari semua tadi. Segalanya ada belaka.

Apa guna jika ada semuanya, tapi abang dan anak-anak tidak turut serta? Itu bukan bahagia maknanya pada saya.

Abang, susah kita sekarang, semua yang kita lalui sekarang ini adalah harga yang sedang kita bayar untuk mahligai di akhirat kelak. Makin kita sabar dan tenang lalui pahit-maung, suka duka masih bersama, insya-Allah.

Syurga jadi milik kita jua.

Bang, 'syurga' bagi setiap orang tidak sama. Ada orang makan kek yang harga mahal barulah dia terasa bahagia.

Tapi, saya dan anak-anak, makan biskut tawar pun sudah terasa nikmat bahagianya.

Abang, anak-anak. Syurga saya."


Aku terkesima dengan kata-kata isteriku. Berhenti seketika di bahu jalan. Aku cakap dengan dia nak check tayar. Macam tak sedap saja drive. Padahal, aku tunduk tengok tayar, nangis sendirian.

Masuk balik kereta. Senyum.

"Depan sana ada air jambu asam boi. Semua nak tak?"

Isteri dan anak-anak serentak jawab,

"Nak!"


Oleh : Muhammad Rusydi


3 comments :

Ateh Salim said...

Saya sudah nampak tajuk ini di FB, tapi saya tak membacanya.
Kali ini saya baca...tak perasan air mata menitik.
Entah kenapa...

ybs said...

dan saya jgk termenitik air mata.....air mata syahdu seorang tua

obat stroke said...

Obat Stroke Iskemik Herbal Alami adalah sebuah solusi untuk anda yang bingung mencari obat untuk mengatasi penyakit stroke, selain itu ada juga Obat Untuk Mengobati Stroke Ringan Herbal yang memang banyak dicari karena sekarang ini banyak sekali penderita penyakit stroke ringan. Obat Stroke Tradisional Alami Ampuh, memang sangat ampuh karena terbuat dari bahan-bahan tradisional. Obat Untuk Stroke Ringan Yang Manjur juga sangat ampuh untuk mengatasi stroke ringan. Untuk itu Obat Penyakit Stroke Alami dan Tradisional sangat membantu sekali untuk pengobatan penyakit stroke. Obat Mujarab Untuk mengobati Penyakit Stroke merupakan sebuah obat mujarab yang banyak dijadikan alternatif oleh banyak orang, Obat Penyakit Stroke Alami dan Tradisional dan Obat Alami Untuk Mengobati Penyakit Stroke ini sudah banyak membantu orang-orang yang mengidap penyakit stroke dengan menggunakan Obat Untuk Penyakit Stroke Paling Ampuh. Obat Herbal Untuk Penderita Penyakit Stroke ini sangat aman, karena terbuat dari bahan alami yang 100% herbal. Obat Tradisional Untuk Penyakit Stroke Berat pun tersedia untuk anda yang memang mengalmai stroke berat. Untuk itu baik Obat Tradisional Untuk Menyembuhkan Penyakit Stroke, Obat Untuk Mengobati Stroke Ringan Maupun Berat, ataupun Obat Herbal Yang Mampu Untuk Mengobati Penyakit Stroke sangat baik dan berkhasiat sangat tinggi untuk mengobati penyakit stroke hingga tuntas.